travel

Jaja bendu, kelezatan tradisional Jembrana yang sarat makna spiritual

Kamis, 24 Juli 2025 | 03:11 WIB
Foto kue tradisional Jembrana, Bali bernama jaja bendu (Tangkapan layar YouTube Dapur Made)

GENMILENIAL.ID – Di balik keindahan panorama Bali Barat, tepatnya di Kabupaten Jembrana, tersimpan kekayaan kuliner yang tak hanya menggoda lidah, tetapi juga sarat makna budaya dan spiritual.

Salah satu warisan tersebut adalah jaja bendu, kue tradisional yang lekat dengan berbagai upacara keagamaan masyarakat setempat.

Berbungkus daun pisang dan berisi adonan ketan dengan isian parutan kelapa bercampur gula Bali, jaja bendu bukan sekadar penganan manis.

Baca Juga: Medewi Festival siap digelar 25-27 Juli 2025, surganya peselancar dan penikmat budaya di Bali

Ia menjadi simbol persembahan dan harapan dalam berbagai ritus adat Bali, terutama dalam upacara Guru Piduka atau Bendu Piduka.

Upacara ini digelar sebagai wujud permohonan keselamatan, pengampunan, serta bentuk penghormatan terhadap leluhur.

Kehadiran jaja bendu dalam setiap upacara keagamaan di Jembrana mencerminkan hubungan erat antara makanan, alam, dan nilai spiritual.

Rasa manisnya yang khas, berpadu dengan aroma daun pisang yang membungkusnya, membuat kue ini juga digemari sebagai kudapan santai ditemani teh atau kopi hangat.

Baca Juga: Bupati Gunungkidul: Penerima bansos yang masih beli rokok dan skincare perlu dievaluasi

Namun, meski nikmat dijadikan oleh-oleh, jaja bendu bukanlah jenis kue yang tahan lama.

Tanpa bahan pengawet, ketahanan jaja bendu sangat terbatas, biasanya hanya bertahan satu hingga dua hari.

Hal ini seolah menegaskan filosofi kesederhanaan dan kedekatan dengan alam yang dipegang masyarakat Bali dalam menjaga tradisinya.

Bagi wisatawan atau siapa pun yang berkunjung ke Jembrana, mencicipi jaja bendu bukan hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman menyelami warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.***

Tags

Terkini