“KDM tidak perlu melawan Prabowo untuk menjadi presiden. Kalau Prabowo maju, dia bisa menunggu. Kalau Prabowo tidak maju, KDM sudah berada dalam posisi yang sangat siap,” ujar Agus.
Dalam skenario itu, restu Prabowo justru dinilai lebih berharga dibandingkan KDM harus mencari kendaraan politik baru.
KDM tidak perlu meninggalkan Gerindra, membangun mesin politik dari awal, ataupun berhadapan langsung dengan figur yang selama ini menjadi pemimpin partainya.
Ia justru dapat tampil sebagai bagian dari regenerasi politik Gerindra setelah Prabowo.
Jangan terjebak angka survei
Tantangan KDM saat ini adalah tidak terjebak dengan angka survei. Popularitas yang terlalu cepat diterjemahkan menjadi ambisi Pilpres dapat memengaruhi persepsi publik.
Kekuatan KDM saat ini muncul dari aktivitasnya sebagai kepala daerah. Gaya komunikasinya langsung, aktivitasnya di lapangan tinggi, dan media sosial membuat masyarakat merasa dekat dengan cara KDM memimpin.
Jika aktivitas tersebut terlalu cepat dikaitkan dengan Pilpres 2029, kerja pemerintahan dapat dipersepsikan sebagai kampanye. Karena itu, strategi yang dinilai menguntungkan bagi KDM adalah tetap fokus pada Jawa Barat.
Jika elektabilitas KDM bertahan tinggi hingga 2028 atau 2029, pertanyaan politiknya dapat berubah.
Bukan lagi sekadar apakah KDM berani melawan Prabowo, tetapi apakah Prabowo akan kembali maju ketika terdapat kadernya sendiri yang memiliki peluang elektoral besar.
Jika Prabowo tetap maju, KDM akan menghadapi ujian terhadap komitmen politiknya. Namun, jika Prabowo tidak maju, Gerindra membutuhkan figur yang mampu menjaga keberlanjutan kekuatan politik setelah era Prabowo.
Baca Juga: Akhir pelarian pria yang diduga bunuh wanita di Bandung hingga jasad korban terbungkus kardus
Pada titik tersebut, KDM mempunyai posisi strategis.