“Nah, para WNI ini kemudian mendaftar, lalu kemudian dari situ akhirnya dikirim untuk menjadi tentara. Begitu informasi yang kami dapat,” imbuhnya.
Pemerintah lakukan koordinasi
Lebih lanjut, Dasco menyebut pemerintah melalui pihak-pihak berwenang telah melakukan koordinasi untuk mengantisipasi perekrutan WNI menjadi tentara Rusia.
Menurutnya, otoritas intelijen Indonesia dan Kementerian Luar Negeri telah mengambil langkah untuk menindaklanjuti informasi tersebut.
“Saat ini, otoritas intelijen dan Kementerian Luar Negeri sudah melakukan antisipasi, berkoordinasi, dan kemudian mengirimkan utusan kepada negara-negara tersebut,” jelasnya.
Baca Juga: Minuman rasa susu untuk MBG anak TK di Bogor jadi sorotan, kandungan airnya capai 86 persen
Langkah tersebut dilakukan pemerintah setelah memperoleh informasi mengenai adanya perekrutan WNI melalui tawaran pekerjaan yang kemudian berujung pada pengiriman mereka untuk menjadi tentara.
Intelijen Ukraina klaim ada 8 WNI
Sebelumnya, Intelijen Ukraina atau SZRU mengklaim terdapat delapan WNI yang telah direkrut menjadi tentara Rusia.
Intelijen Ukraina menyebut para WNI tersebut akan ditempatkan sebagai garda depan dalam perang. Mereka juga diklaim tidak mendapatkan pelatihan sebelum diterjunkan ke garis depan.
Melalui situs resminya, Intelijen Ukraina merilis delapan nama WNI yang diduga saat ini menjadi tentara Rusia.
Baca Juga: Kebakaran bedeng-gudang di Legian Bali, api dilaporkan merembet hingga ke rumah semi permanen
Adapun delapan WNI yang namanya dirilis Intelijen Ukraina tersebut adalah:
- Yuda Putra Pratama, kelahiran 9 Agustus 1997.
- Haryanto Dwi Kencana, kelahiran 14 Juli 1983.
- Erwanda, kelahiran 5 Agustus 1988.
- Ngangun Hudri Fadli, kelahiran 17 September 1978.
- Muhammad Syaripudin, kelahiran 3 Agustus 1994.
- M Hadi Maulana, kelahiran 7 April 1987.
- Wahyu Oktavian Iskandar, kelahiran 22 Oktober 1985.
- Helmi Nuraha Hakim, kelahiran 27 Januari 1983.***