“Saya sampai tidak bisa tidur kalau ingat ini duit negara, duit rakyat harus benar dijalankan dan tidak boleh saya kecolongan,” ungkapnya.
Ia menggambarkan tanggung jawab tersebut seperti berada di situasi yang sangat berisiko.
Baca Juga: Dilantik jadi kepala BGN yang baru, Sudaryono: Saya dan keluarga tidak punya dapur SPPG
“Menjaga uang besar agar tersalurkan dengan benar seperti berdiri di tebing jurang yang curam. Meleng sedikit bisa terjerembab,” jelasnya.
Selalu libatkan wakil dalam keputusan
Untuk meminimalisir risiko kesalahan, Nanik mengaku tidak pernah mengambil keputusan terkait anggaran secara sepihak.
Ia selalu melibatkan para wakil kepala untuk ikut menandatangani dokumen penting.
“Saking takutnya saya memegang anggaran besar, sampai tanda tangan apa pun saya tidak mau sendiri. Harus dua wakil kepala ikut paraf,” ujarnya.
Baca Juga: Soal Nanik S Deyang jadi Dewas BGN, Istana pertimbangkan pengalaman urusi MBG
Bahkan, ia kerap merasa cemas saat dihadapkan pada tumpukan dokumen pekerjaan hingga mengalami reaksi fisik seperti panas dingin.
Mengaku diteror hingga ganti nomor HP
Tak hanya tekanan pekerjaan, Nanik juga mengungkap bahwa dirinya sempat mengalami teror dari berbagai pihak.
Hal itu membuatnya memutuskan untuk mengganti nomor telepon pribadinya.
“Capai diteror kanan-kiri dan membuang nomor HP ternyata 50 persen dari obat jantung saya,” ungkapnya.