Kisah haru penerima manfaat
Salah satu keluarga penerima manfaat, Dadang Herman, mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini.
Ibunya, Runtesih (65 tahun), diketahui mengalami katarak sejak dua bulan terakhir dengan kondisi salah satu mata tidak dapat melihat.
“Ibu saya yang satu matanya normal, yang sebelahnya sudah tidak bisa melihat total. Kami tahu ada program ini dari bidan desa,” ungkapnya.
Menurutnya, biaya operasi katarak secara mandiri cukup mahal sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat kurang mampu.
“Alhamdulillah tidak ada biaya sama sekali. Bahkan kami dibantu dari puskesmas sampai diantar ke lokasi. Pelayanannya juga sangat baik,” katanya.
Bupati Subang: Negara hadir untuk rakyat
Bupati Subang Reynaldy Putra Andita Budi Raemi menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Sosial dalam kegiatan tersebut.
Ia menilai program ini menjadi bukti nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.
“Saya sangat bangga dan berterima kasih. Ini wujud nyata bahwa pemerintah hadir untuk masyarakat, terutama bagi yang membutuhkan,” ujarnya.
Baca Juga: ESAI: Saatnya rebranding BGN dan SPPG, dari program gizi menjadi mesin ekonomi rakyat
Ia menambahkan bahwa bantuan seperti ini merupakan bentuk pengembalian manfaat dari anggaran negara kepada rakyat.
“Melalui program ini, masyarakat bisa mendapatkan layanan kesehatan dan bantuan sosial tanpa biaya. Ini bukti bahwa negara benar-benar bekerja untuk kesejahteraan rakyat,” tegasnya.
Ia berharap program serupa dapat terus berlanjut dan memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya para lansia.***