Baca Juga: Kang Akur soroti pemasaran UMKM Subang, dorong produk lokal masuk rest area dan destinasi wisata
Aksi itu bukan semata-mata kegiatan sosial. Para peternak menjadikannya sebagai simbol atas kondisi usaha yang mereka hadapi ketika harga jual ayam dan telur tidak lagi sebanding dengan biaya produksi.
Peternak sebut harga ayam tak lagi menarik
Koordinator Peternak Ayam Petelur DIY, Andry Patra, mengatakan pembagian ayam tersebut dilakukan sebagai bentuk sedekah kepada masyarakat sekaligus cara menunjukkan keresahan para peternak.
Menurutnya, ayam yang dibagikan telah memasuki masa afkir. Pengeluaran ayam tersebut juga berkaitan dengan persoalan populasi yang dinilai terlalu tinggi sehingga semakin menekan kondisi pasar.
Baca Juga: Detik-detik Kiai Anwar Zahid alami kecelakaan di Bojonegoro, mobil ringsek terhantam truk
“Kita sebagai bentuk apa ya, kita mau sedekah ke masyarakat. Karena harga ayam tidak laku,” ujar Andry.
Ia menyebut harga ayam afkir saat ini berada di kisaran Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat peternak kesulitan memperoleh nilai jual yang layak.
“Ini Rp13.000 itu ibaratnya kita buang ayam, supaya populasi lebih turun lebih cepat,” katanya.
Andry menegaskan, jumlah 1.600 ayam yang dibagikan sebenarnya tidak sebanding dengan besarnya persoalan yang dihadapi peternak.
“Siapa pun boleh ambil. Ini cuma bentuk simbolis saja, 1.600 tidak ada artinya sebenarnya,” ujarnya.
Menurutnya, pembagian tersebut diharapkan membuat masyarakat mengetahui bahwa peternak sedang menghadapi tekanan ekonomi dan kerugian yang cukup besar.
Harga telur bertahan di bawah harapan
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah harga telur. Andry mengatakan harga telur telah mengalami kondisi tidak stabil selama sekitar tiga bulan terakhir.