Baca Juga: Cak Imin: Kamboja bukan tempat aman untuk pekerja migran Indonesia
Dengan prinsip itu, FIFA ASEAN Cup diharapkan mampu memperluas peran sepak bola sebagai kekuatan sosial baru, bukan hanya hiburan, tetapi juga media pembangunan karakter dan identitas kawasan.
Bayang-bayang AFF Cup: Rivalitas atau regenerasi?
Kehadiran turnamen baru ini otomatis menimbulkan pertanyaan besar, apa nasib Piala AFF?
Selama hampir tiga dekade, Piala AFF telah menjadi simbol kebanggaan sepak bola Asia Tenggara, dari rivalitas klasik Indonesia vs Malaysia hingga dominasi Thailand yang nyaris tak tergoyahkan.
Namun kini, sebagian pengamat menilai FIFA ASEAN Cup bisa menjadi versi 'level atas' dari AFF Cup.
Turnamen baru ini berada langsung di bawah naungan FIFA, memiliki potensi siaran global, sponsor internasional, serta kemungkinan digelar dalam kalender FIFA Matchday, yang artinya pemain-pemain top dari klub Eropa bisa ikut bertanding.
Di sisi lain, Piala AFF masih memiliki kekuatan historis dan emosional yang kuat di kalangan suporter kawasan.
Bagi banyak penggemar, AFF bukan sekadar turnamen, ia adalah bagian dari identitas sepak bola ASEAN.
Dari sejarah ke masa depan
Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) didirikan pada 1984 dan menjadi fondasi awal kerja sama sepak bola regional.
Kini, dengan munculnya FIFA ASEAN Cup, kawasan ini dihadapkan pada peluang untuk naik kelas secara institusional dan komersial.
Jika benar digelar di jadwal resmi FIFA, ASEAN Cup berpotensi melahirkan babak baru sepak bola Asia Tenggara yang lebih kompetitif, profesional, dan diakui dunia.***