Armand juga menjelaskan bahwa semua medali yang diberikan kepada para juara sudah melalui proses quality check (QC) sebelum diserahkan.
"Pada saat membuat medali tersebut, kita sudah melalui tahapan QC dari tim kami kepada vendor, dan hasilnya baik," tambahnya.
Reaksi media sosial
Kondisi medali Jonatan Christie yang rusak memicu perbincangan di media sosial, terutama di platform X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter).
Banyak pengguna yang menyayangkan kualitas medali yang diberikan dalam turnamen sebesar Indonesia Masters, mengingat ini merupakan salah satu ajang bergengsi bulu tangkis internasional.
Beberapa netizen juga menyuarakan dukungan kepada Jonatan dan berharap panitia segera menyelesaikan masalah tersebut.
“Dengan level turnamen seperti ini, harusnya medali yang diberikan punya kualitas tinggi. Kasihan Jonatan,” tulis salah satu pengguna X.
Indonesia tanpa gelar di rumah sendiri
Selain Jonatan Christie, ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto juga berhasil mencapai babak final.
Sayangnya, mereka juga gagal meraih gelar setelah dikalahkan oleh pasangan Malaysia.
Dengan demikian, Indonesia gagal membawa pulang gelar juara dalam turnamen yang digelar di kandang sendiri.
Meski hasil ini mengecewakan, perjuangan para atlet Indonesia tetap mendapat apresiasi dari publik.
Artikel Terkait
Ketika Timnas Indonesia bikin kagum FIFA, ini momen Marselino ditanya soal Pildun 2026 hingga ambisi jelang kontra Australia
Persikas Subang buat tak berkutik RANS Nusantara FC dengan skor 2-0 di babak play off degradasi Liga 2
3 Fakta menarik di Laga Man City vs Chelsea: Pelukan hangat Pep Guardiola yang maklumi debut canggung Abdulkodir Khusanov
Pesan haru STY saat detik-detik kepulangan sang mantan pelatih Garuda menuju Korsel: Saya ingin istirahat dulu ya
Sepak terjang karier sepak bola Kevin Diks usai kini pindah dari Klub Jawara liga Denmark menuju Borussia Monchengladbach di Jerman!
Ucapan selamat tinggal yang hangat dari fans Garuda ke STY jadi sorotan media Korsel: Setelah 5 tahun, akhirnya pulang ke rumah
Penggemar Garuda rela desak-desakan demi ‘mengantar pulang’ STY, media Korsel justru soroti PSSI yang tak beri hadiah perpisahan