Meski begitu, Ifan tetap memberikan dukungan moral kepada tim Merah Putih: One For All di tengah derasnya kritik.
“Menurut kami di PFN, film ini memang jauh secara maksimal dari segi produksinya, tapi bukankah kualitas produksi juga bagian dari pembelajaran?” ujarnya.
Dengan pengalaman panjang PFN dan inovasi teknologi XR, Pelangi di Mars diharapkan menjadi tonggak baru bagi perfilman animasi nasional yang mampu bersaing di kancah global.***
Artikel Terkait
Pernah dibully semasa kecil, Ryan Adriandhy ngaku ceritakan kisah hidupnya lewat film animasi ‘Jumbo’
Update tarif resiprokal Trump: Terapkan tarif 100 persen untuk semua film yang diproduksi di luar AS
Komentar Ernest Prakasa usai film 'Agak Laen' disalip JUMBO: Kekalahan paling membanggakan
Unggahan terakhir Gustiwiw di Instagram: Apresiasi untuk lagu ‘Diculik Cinta’ di film GJLS
Bangkitkan empati untuk Palestina, Assyifa Peduli ajak yatim nobar film Hayya di puncak Muharram Festival
ESAI: Sains dan seni dalam film Sore 'Istri dari Masa Depan'
Hanung Bramantyo sindir penayangan film animasi merah putih: One for all yang dinilai terburu-buru